Selasa, 11 Desember 2012

Semangkuk rempah-rempah romantika hidup


“Nak, mulai besok kalian tidak usah sekolah lagi ya? Bapak sudah tidak punya uang untuk biaya sekolah kalian…” suara parau itu pun akhirnya keluar juga. Sebenarnya, lelaki itu tak pernah sanggup untuk mengungkapkannya. Selama hampir empat bulan kalimat itu selalu dijaganya, namun hati dan pikirannya sudah tak mampu lagi menampung semua beban itu. Dan nyatanya, memang ia tak lagi sanggup. Sementara disudut ruangan sempit berdinding batako tak berplester itu, ibu keempat anak itu tertunduk menahan gelembung di sudut mata yang mendesak-desak.

Di balik dinding rumah lainnya,
Seorang ibu yang telah lama ditinggal suaminya terpaksa menyuruh tidur tiga anaknya lebih dini. Usai sholat isya', semua anak-anaknya yang masih kecil dipaksa tidur agar bisa melupakan lapar yang dirasanya.
Sejak suaminya meninggal dunia setahun lalu, ia memeras keringat sendirian membesarkan tiga anaknya dengan bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah tetangganya. Jangankan untuk bisa bersekolah, penghasilannya sangatlah tidak mencukupi bahkan untuk makan sehari-hari. Sehingga dengan sangat terpaksa ia mengatur jadwal makan ia dan ketiga anaknya hanya sehari sekali. Setiap pagi anak-anaknya hanya diberi air putih. Memasuki siang hari barulah mereka melahap nasi dengan lauk seadanya.
Setiap menjelang maghrib, ibu tiga anak itu harus menjerit dalam hati mendengar perih kesakitan anak-anaknya yang menahan lapar. Ia hanya mampu berkata, “sabar nak…” untuk menenangkan anak-anaknya. Dan memang tidak pernah ada yang bisa disantap lagi hingga besok pagi.

Di sebuah kamar tidur di rumah yang lain lagi,
Seorang suami mendekati istrinya perlahan dan penuh hati-hati. Ia bertanya, “apakah anak-anak sudah tidur?” “sudah” jawab sang istri.
Lalu, “bagaimana mungkin mereka bisa tidur dengan perut lapar setelah seharian tidak makan?” tanya sang suami lagi.
“Ibu janjikan akan ada makan enak besok pagi saat mereka bangun, maka mereka pun segera tidur” jelas istrinya.
Setiap malam, dialog itu terus berlangsung. Dan setiap pagi, tidak pernah ada makanan enak seperti yang dijanjikan sang ibu kepada anak-anaknya. Sungguh, boleh jadi di pagi-pagi yang akan datang, akan ada satu-dua anak dari keluarga itu yang tak pernah lagi terbangun lantaran kelaparan.

Sementara di sebuah rumah kontrakan,
Seorang istri berkata kepada suaminya, “pak, besok saya malu keluar rumah. Takut ketemu Pak Sofyan pemilik kontrakan ini. Kita sudah lima bulan tidak membayar kontrakan. Dan sebenarnya Pak Sofyan sudah mengusir kita”.
Sang suami hanya mampu menghela nafas panjang. Sungguh, jika bisa ia tak ingin kalimat itu keluar dari mulut isterinya. Jika pun mampu, ia tak mau membuat istri tercintanya malu bergaul bersama para tetangga lantaran terlalu banyak sudah hutang-hutang mereka yang belum sanggup terbayar.

Lagi, di sebuah ruang keluarga rumah yang lainnya,
Seorang bapak membawa sejumlah uang cukup banyak dan bungkusan makanan yang nikmat untuk istri dan anak-anaknya. Inginnya ia berteriak sekeras-kerasnya saat istri dan anak-anaknya tertawa bahagia menyambut bingkisan yang dibawanya. Tetapi ia pun tak ingin membuyarkan kegembiraan di ruang keluarga itu.
Saking bahagianya, sang istri terlupa bertanya dari mana suaminya mendapatkan uang segitu banyak dan bisa membeli makanan enak. Sehingga setelah larut dan setelah semua anak-anaknya terlelap, teringatlah sang istri bertanya. Apa jawab sang suami? “Siang tadi bapak terpaksa mencopet…”

***
Sungguh teramat banyak hal yang membuat hati ini lebih bergemuruh jika saja kita mau mendekat, melihat dan mendengarnya dari balik dinding-dinding rumah saudara-saudara kita. Lihat di sekitar kita, banyak suara-suara yang tak sanggup telinga ini mendengarnya, banyak tangis yang mengiris-iris hati, dan banyak pemandangan yang membuat terenyuh. Sayangnya, kita sering terlupa melihat dan mendekat.

Poem of Rumisme


One day You will take my heart completely
and make it more fiery than a dragon.
Your eyelashes will write on my heart the poem
that could never come from the pen of a poet.

I've been looking for a long,
long time,for this thing called love,
I’ve ridden comets across the sky,
and I’ve looked below and above.
Then one day I looked inside myself,
and this is what I found,
A golden sun residing there,
beaming forth God’s light and sound.

si Anak Senja


Kepala ini,,
Serasa tumbuh uban-uban
Meski petang belum memupuk senja
Pada helai-helai rambut yang masih pagi
Mentari menyuburkan terik di keningku

Lalu wajah ini memucati putihnya hari
Mempias hujan yang ingin mengalirkan anak-anak sungai di mata
Dan ubun-ubun membiaskan tangis ibu yang teduh
Pada kemarau yang membakar sisa-sisa ingatan

Meski sepi tak mampu mengusir sisa-sisa semangat riang
Anak senja tetap istimewa pun dengan simpul polosnya
Terngiang jelas setiap inci pelukan hangat
Anak senja tersenyum lelap di dalam selimut emas
Lalu kini kembali, menagih rindu-rindunya kepada pencipta

Sungguh si anak senjaPergi tak kembaliNamun kerlingannya rapih di sanubariSebab, hidup masihlah terbit di mata hatiDan fajar, tetap setia menghitamkan rambut di kepala

Dalam Sujudku



Aku bersujud,,,
tak lepas kening dari sajadah
entah berapa banyak
air mata yang mengalir membasuhnya

Aku bersujud,,,
mengadukan segala resah gundahku
menghilangkan rasa benci bathinku
agar lapang hati ini ketika sajadah terlipat

Aku bersujud,,,
memangil namamu dalam dzikir yang panjang
dalam setiap helaan napasku
dalam setiap denyut nadiku

Aku bersujud lagi, berdoa lagi,dalam setiap aliran darahkudalam setiap langkahkudalam setiap pikirku.

Senin, 19 November 2012

Merengguh Cinta Subuh. . .



"Allahu Akbar, Allahu Akbar",,,
Subuh beku
Kabut sendu
Kokok PEJANTAN menggaung.

"Asyhadu alla ilaha illallah",,,
Ketika bait demi bait suara adzan menggema
Aku masih tertidur lelap dalam selimutku

"Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah",,,
Aku masih lelap dalam selimutku
Kuhayati kembali arti sebuah adzan subuh
Kemana dia memanggilku dan untuk apa?

"Hayya 'alash sholah",,,
Aku enggan memenuhi panggilanya
Sebab aku tak lebih dari bangkai penuh dosa
Aku ingin nuraniku yang memanggil
Memanggilku dalam kedamaian dan keikhlasan

"Hayya 'alal falah",,,
Dia memanggil lagi, kututup telingaku hingga
Ku dengar nuraniku memanggil

“Ashsalatu khairum minan naum”,,,
Bangunlah sebab aku adalah dirimu

"Allahu Akbar, Allahu Akbar",,,
Aku melantunkan senandung kerinduan

Ku basuh badanku dengan air wudhu penuh celah,
Ku sujud pada-Nya penuh khusuk
Tenang dalam damai menyentuh jiwaku

Subuh yang menggelora. . .
Lereng Sindoro Temanggung, 19/11/12  04:15

Senin, 06 Agustus 2012

Aku terhempas, , ,


Kadang aku merasa begitu lelah. Ingin rasanya berhenti sejenak. Tapi aku cukup tahu bagaimana tabiatku. Ketika aku berhenti, maka itu tidak pernah sejenak. Bisa jadi per'henti'an itu adalah selamanya. Bahkan mungkin akan lebih parah dari pada sekedar 'berhenti'.

Bisa jadi aku akan menengok ke belakang. Lalu kutemukan bahwa detik yang kemarin terasa begitu memesona. Bahwa langkah yang kemarin terasa begitu mudah. Bahwa tawa yang kemarin terasa begitu bahagia. Aku yang kemarin terasa begitu sempurna sebagai manusia.

Maka siapa lah aku yang tidak akan tertarik ke belakang sana. Mengulang segala kebahagiaan itu.

Terlebih ketika kulihat gunung yang akan kudaki sedemikian tinggi. Bintang yang ingin kuraih sedemikian jauh. Lautan yang hendak kuselami sedemikian dalam. Siapa lah aku, hingga aku begitu merasa percaya bahwa aku mampu.

Maka aku pasi seketika. Semua ketakutan itu akan berhasil membunuhku sampai ke akar akarnya. Dan aku yang tengah begitu, pasti akan memilih mundur..tenggelam..hilang..

Tapi itu sungguh seketika saja. Biarkan aku menghela nafas, agar seketika yang lain, aku ingat untuk berdoa. Ya Rabb..kuatkan aku..kuatkan aku.. Kadang aku merasa begitu lelah. Ingin rasanya berhenti sejenak. Tapi aku cukup tahu bagaimana tabiatku. Ketika aku berhenti, maka itu tidak pernah sejenak. Bisa jadi per'henti'an itu adalah selamanya. Bahkan mungkin akan lebih parah daripada sekedar 'berhenti'.

Bisa jadi aku akan menengok ke belakang. Lalu kutemukan bahwa detik yang kemarin terasa begitu memesona. Bahwa langkah yang kemarin terasa begitu mudah. Bahwa tawa yang kemarin terasa begitu bahagia. Aku yang kemarin terasa begitu sempurna sebagai manusia.

Maka siapa lah aku yang tidak akan tertarik ke belakang sana. Mengulang segala kebahagiaan itu.

Terlebih ketika kulihat gunung yang akan kudaki sedemikian tinggi. Bintang yang ingin kuraih sedemikian jauh. Lautan yang hendak kuselami sedemikian dalam. Siapa lah aku, hingga aku begitu merasa percaya bahwa aku mampu.

Maka aku pasi seketika. Semua ketakutan itu akan berhasil membunuhku sampai ke akar akarnya. Dan aku yang tengah begitu, pasti akan memilih mundur..tenggelam..hilang..

Tapi itu sungguh seketika saja. Biarkan aku menghela nafas, agar seketika yang lain, aku ingat untuk berdoa. Ya Rabb..kuatkan aku..kuatkan aku.. 

Hujan


Waktu  menetesi bunga-bunga soka yang merah. Tanpa mendung, tanpa angin, tanpa petir. Kali ini hujan turun sendirian. Begitu sederhana. Begitu tenang. Hanya hujan.

Tapi aroma yang menguar dari tanah yang basah ini terasa akrab dalam memoriku, Terasa bersejarah. Samar samar memang, Tapi cukup mampu mengembalikanku ke masa puluhan tahun yang lalu. Ketika ayah menggendongku di pundaknya.

Waktu itu  hujannya juga sederhana. Dan aku cekikikan melihat anak anak bebek yang panik berlarian. Menyemangati ayah, aku menjerit sekeras kerasnya seolah anak bebek itu tertangkap. Tentu saja hanya “seolah-olah”, karena nyatanya, kami memang tidak berniat menangkap anak bebek itu. Kami hanya ingin menikmati hujan yang sederhana.

Masa masa itu terasa baru kemarin. Hanya perasaanku saja, pasti. Karena sekarang, ayahku tampak begitu rapuh, dengan gigi ompongnya, dengan mata rabunnya, dengan kulit keriputnya, dengan rambut ubannya. Ayahku sekarang tampak begitu tua. Jadi kesimpulanku, masa masa itu pasti sudah lama sekali berlalu.

Namun hujan kali ini mengembalikanku pada masa masa itu. Mengingatkanku pada sebuah rasa yang tak asing : aku begitu mencintainya….

Falsafah Jawa


1. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
Jangan heranan; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut; Jangan manja.

2. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.

3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan.

5. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

6. Urip Iku Kudu Urup
Hidup itu Harus Menyala,
Hidup itu hendaknya memberi manfaat untuk orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan akan lebih baik.

7. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

8. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

9. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.

10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
Jangan sok berkusa, sok hebat, sok pintar…..!!!

Rabu, 01 Agustus 2012

Purnamaku meradang


Dia lah penghibur malam yang pendiam
si perindu yang hanya bisa mendengarkan curahan perasaan
Luapan hati manusia dalam kesendirian
Setiap menjelang malam tiba

Kadang ia pura-pura tersenyum
Dibalik pantulan sinar matahari
Indah memang, namun tetap saja kesepian

kau nampak meradang dalam genggaman-Purnamaku.

Berusaha untuk memahami,,,


Ketika kerja kita tidak dihargai,
maka saat itu kita sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usaha dinilai tidak penting,
maka saat itu kita sedang belajar KEIKHLASAN.
Ketika hati terluka sangat dalam,
maka saat itu kita sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
Ketika kita harus lelah dan kecewa,
maka saat itu kita sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
Ketika kita merasa sepi dan sendiri,
maka saat itu kita sedang belajar tentang KETANGGUHAN.


"Bukan kulit luar yang penting, tetapi bagaimana menjadikan pengalaman kita sebagai sesuatu yang terbaik bagi jiwa kita. Aku tak peduli berapa lama dibutuhkan, jika aku bisa mewujudkannya dengan tetap berpegang pada apa yang kuyakini, aku percaya bahwa kebahagiaan sejati sedang menantiku. Kupikir, jawaban terhadap bagaimana menjalani kehidupan selalu ada di dalam diriku, dan aku hanya perlu melakoninya dalam keseharian".


Jadi, keberhasilan maupun kegagalan sebenarnya bersumber dari bagaimana kita menjalani kehidupan ini, dan keduanya bukanlah akhir dari segalanya.

Tetap semangat..
Tetap tersenyum..
Terus belajar..


Karena bumi ini adalah Universitas kehidupan, , ,



Cobalah pahami diri sendiri

Memahami diri sendiri sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Bayangkan saja, ini kan sesuatu tentang kita sendiri, berarti ‘mestinya’ kita yang lebih tahu tentang diri kita, daripada orang lain. Kita juga yang paling tahu tentang alasan kita melakukan tindakan-tindakan tertentu. 

Hanya saja terkadang kita mempertanyakan, “apakah benar saya itu demikian?” Kadang kita merasa kurang percaya diri dalam menilai, tapi ada kalanya juga kita jadi terlalu percaya diri dalam menilai   

Ya, terkadang kita memang membutuhkan cermin untuk bisa menilai diri kita secara obyektif. Cermin itu bisa berupa feedback dari orang lain, maupun melalui alat bantu lainnya, misalnya dengan menggunakan tes/kuesioner/survey, dll. 

Tujuan utama tentunya untuk lebih memahami diri secara obyektif. Disebut obyektif karena orang yang memberikan feedback maupun hasil kuesioner tsb, akan mengacu pada suatu standar tertentu, atau membandingkannya dengan populasi tertentu.

Mendengarkan feedback dari orang lain maupun mengisi kuesioner psikologi bisa memperkaya pemahaman kita tentang diri sendiri. Kalau pinjam istilahnya Johari Window, hal ini ditujukan untuk memperluas bagian yang diketahui oleh diri sendiri.

Preferensi tidak mengandung unsur benar atau salah. Demikian pula dengan tipe kepribadian, tidak ada tipe yang paling baik di antara tipe-tipe lainnya. Semua tipe memiliki bobot yang sama, memiliki kekuatan dan tantangannya masing-masing, dan dengan mengetahuinya kita dapat mengerti dan menghargai bagaimana seseorang terlibat dalam situasi, mengerjakan tugas maupun menyelesaikan persoalan.
* * *

Mudah-mudahan dengan memahami diri sendiri, kita bisa mengerti hal-hal apa saja yang sesuai untuk kita lakukan, dan juga semoga kita bisa berinteraksi dengan orang lain secara lebih baik lagi.

Hidup ini Indah. . .


Ketika sedang “jaya”,
kita merasa banyak teman di sekeliling kita.

Ketika sedang “berkuasa”,
kita PeDe melakukan apa saja.

Ketika "tak berdaya",
barulah kita sadar siapa saja sahabat sejati yang ada.

Ketika “jatuh”,
kita baru sadar selama ini siapa saja teman yang memperalat dan memanfaatkan kita.

Ketika “sakit”,
kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi harta.

Manakala “miskin”,
kita baru tahu jadi orang harus banyak memberi/bersedekah dan saling membantu.

Ketika masuk usia “tua”,
kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.

Saat di ambang “ajal”,
kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia…..

Hidup tidaklah lama…
Sudah saatnya kita bersama-sama membuat 'Hidup ini lebih berharga dan bermakna',
saling menghargai, saling membantu, saling memberi, saling mendukung.

Jadilah teman setia tanpa syarat,
jangan saling memotong dan menggunting sesama teman,
tunjukkan bahwa Anda masih mempunyai Nurani,
jauhkan niat jahat untuk mencelakai teman,
jauhkan niat memaksa seseorang melakukan suatu hal untuk kepentingan pribadi kita,

Percayalah, akan ada “akibat” karena ada “sebab”,
apa yang ditabur, itulah yang akan dituai.

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar.Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa…

Jangan pernah menyerah, terus berjuanglah,

Life is so beautiful to be enjoyed,,

Hidup ini bukanlah suatu tujuan, melainkan sebuah perjalanan…

Arti Kebahagiaan. . .


KETIKA aku ingin hidup KAYA,
Aku lupa bahwa HIDUP adalah KEKAYAAN.

KETIKA aku enggan MEMBERI,
Aku lupa bahwa semua yang aku miliki adalah PEMBERIAN.

KETIKA aku ingin jadi yang TERKUAT,
Aku lupa bahwa dalam KELEMAHAN, Tuhan memberiku KEKUATAN.

KETIKA aku takut RUGI,
Aku lupa bahwa HIDUPKU adalah sebuah KEBERUNTUNGAN.

HIDUP ini sangatlah INDAH jika mau MENSYUKURI apa yang sudah ada.

Adakalanya yang TERINDAH bukanlah yang TERBAIK,
Yang SEMPURNA tidak menjanjikan KEBAHAGIAAN.

Tetapi ketika kita mampu dan mau Menerima semua KEKURANGAN & Merubahnya menjadi sebuah KELEBIHAN. . .

Itulah arti KEBAHAGIAAN.

Mentari di pagi hari


Lagi-lagi di dermaga dahaga tempat mengakhiri senja, mengawali pagi dengan mentari yang cerah dengan setumpuk rasa yang bercengkrama dalam jiwa-raga penghilang rasa,,,

Entahlah beberapa hari ini, sang mentari seperti enggan bersinar, lebih memilih berselimutkan mendung tipis. Dan hari ini sang Mentari bersinar kembali tepat di awal bulan… Ya, bulan Agustus dengan hawa dinginnya kala pagi menyapa hari.
Bagi saya, sinar Mentari di pagi hari, seolah memberikan semangat untuk memulai aktifitas hari yang akan dijalani, mungkin karena pergantian dari malam yang gelap menuju terangnya siang hari seolah menyimbolkan sebuah harapan yang kita harapkan dalam gelapnya malam. Tapi memang terasa betul ketika mendung menggelayut di pagi hari, seolah ada rasa enggan untuk memulai hari dengan setumpuk aktivitas. Walau bagaimanapun, saya harus tetap bersyukur, masih diberikan nafas oleh yang Maha Kuasa, masih diberi kesempatan untuk berusaha berbuat lebih baik lagi dan masih bisa menikmati hangatnya pesona mentari di waktu pagi.

Mentari pagi di awal Agustus, , ,Cool banget.


Sabtu, 28 Juli 2012

Rasa ini...


Berkata bahwa aku kalah. Walau sejatinya ini bukan sebuah perlombaan, tapi ini lebih menjadi sebuah kerelaan. Untuk kau, aku rela untuk terus maju. Untuk kau, aku rela untuk terus bergerak.
Ya,,mimpi yang kubangun mungkin masih sulit untuk dirintis pada bagian-bagian tertentu. Tapi aku bukannya sedirian kan? Aku memiliki kamu. Aku ingin menjalani setapak demi setapak dengan kamu di sampingku. Entah itu sulit, entah itu mudah. Karena saat ini aku memilihmu. Dan asaku di masa depan, senyum manis itu tak akan pernah tergantikan.

Dalam gelapmu


Apakah kau bisa membaca?
aksara pada setiap dinding
ketika semua lampu dipadamkan
dan kau sendiri dalam kamar

yang mungkin luput kau eja ketika nampak
kini tak satu pun mampu kau ucap

Pernahkah kau benar-benar membaca
ke dalam hatimu, ke dalam jiwamu
ketika gelap merayap tak hanya di mata

Di hatimu, di jiwamu, di dalam hidupmu
adakah yang bisa kau baca
ketika semua menjadi tak bisa kau raba
selain dirimu dan gelap yang menyatu

Engkaulah kalbu. . .


Aku tahu mengapa tak harus banyak bicara
dan aku mengerti mengapa harus berdiam diri
Barangkali aku tak bisa memaknai semua yang tersembunyi
dari sebuah ucap, tetapi kuhadirkan hatiku ketika kau berkata

Begitu juga kala kueja aksara dari semesta
aku ingin selalu hatiku yang pertama membaca
Karena engkau adalah jiwa dan kalbu adalah hidupmu
maka kutuang juga rasa dalam kata bersenada

Apalah arti memberi, apalah makna menerima
jika di dalam kata ada bahasa tak berjiwa

Kepada Bintang Hatiku...


Ini hanyalah tempat untuk sekedar singgah
dimana kenisbian berperan utama
janganlah pernah merasa resah
ketika yang ada menjadi tiada

Engkau akan berjalan menuju dirimu
dan engkau akan berakhir kepadamu

Kau hanya boleh yakin kepada hatimu
dan Tuhan yang bersemayam di dalamnya
karena selain itu hanya pengharapan
bukan untuk sandaran

Kau akan mengerti ketika telah sampai
kepada hakekat hidup yang ditempuh
Karena kau akan sendiri dan sepi setelah ini
kau akan tumbuh dan kenal sebuah rindu

sesungguhnya hari ini adalah nyata
menangislah di dadaku selagi ada
jangan biarkan semua tubuh dan jiwamu hampa
karena kau akan jauh melangkah

Senjaku berlalu. . .


Sesaat lagi matahari menyombongkan perhiasan emasnya
Merayu laut untuk mau bersetubuh
Menghindari gelap yang selalu merongrong wibawanya
Malu jika angkuhnya berkalung bintang


Sepi kembali mencabikcabik badan senja
Merobek indahnya hingga tiada. aku berada di sana
Diam terpana. harusnya, senja terpeluk gembira
Gemuruh suka berdenging di telinga. karena senja adalah puja.

Lihat bagaimana pujangga memujanya
Cumbui katakata indah dalam puisi. seakan senja bernyawa
Dan mereka jatuh cinta.


Aku lupa, senja bukanlah surga
Yang hilangnya ditandai oleh airmata
Senja hanya ruang terbaik untuk kita jatuh cinta.

Senja harmoni dipinggiran pantai

Kamis, 26 Juli 2012

Jika aku mencintaimu karena Allah, , ,


Wahai diri..
Jika memang kau mencintainya karena Allah
Cintailah dia dengan cara yang benar
Cintailah dia pada saat yang tepat

Ya Robb..
Aku tak akan memaksakan diri hanya untuk sebuah perasaan

Ya Robb..
Jika dia memang jiwa yang telah Kau pilihkan untukku, berikanlah kami jalan dan petunjuk
Jika dia memang takdir bagi ku, pantaskanlah dia untuku dan pantaskanlah diriku untuknya

Ya Robb..
Aku memilihnya karena sebuah keyakinan
Aku terima seluruh kelebihan dan kekurangannya
Aku terima seluruh luka dan bahagia yang menyertai hidupnya
Aku terima dirinya dengan seluruh apa yang telah Engkau berikan untuknya

Terima kasih Cintamu,,,Ibu


Ibu...
rambutmu kini sudah mulai memutih
Kulitmu tak lagi kencang
Penglihatanmu tak lagi terang
Jalanmu kini sudah mulai goyang

Namun..apa yang terlihat
Semua itu tak pernah engkau rasakan
Semua itu tak pernah engkau pedulikan
Aku paham, semua itu demi anakmu

Sepanjang jalan engkau mengais rejeki
Sepanjang waktu engkau berhitung
Berapa laba kau dapat hari ini
Tuk membayar semua letihmu

Engkau tak lagi dapat membedakan
Mana siang, mana malam
Semangat mengalahkan gemetar kakimu
Dan segala rasa lelahmu

Ini semua...untuk siapa?
Hanya untuk anakmu
Anak yang engkau impikan menjadi orang hebat
Mencapai setumpuk asa

Ibu...
Sampai kapanpun,
Anakmu tak kan pernah lupa
Atas semua jasa, do'a dan derita
Keringat yang engkau cucurkan

Ibu...
Engkau sudah terlalu besar, berkorban
Hanya surga yang pantas membayar tulusmu
Hanya Tuhan yang pantas menjagamu
Dunia dan akherat...

Ibu...
Anakmu kan selalu merindumu
Do'a di setiap hembus nafas ini
Terima kasih...Ibu, untuk semua ikhlasmu

Do'amu,,Ibu


Ibu...
adalah wanita yang telah melahirkanku
merawatku
membesarkanku
mendidikku
hingga diriku telah dewasa

Ibu...
adalah wanita yang selalu siaga tatkala aku dalam buaian
tatkala kaki-kakiku belum kuat untuk berdiri
tatkala perutku terasa lapar dan haus
tatkala kuterbangun di waktu pagi, siang dan malam

Ibu...
adalah wanita yang penuh perhatian
bila aku sakit
bila aku terjatuh
bila aku menangis
bila aku kesepian

Ibu...
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih dan sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku

Aku yang selalu merepotkanmu
aku yang selalu menyita perhatianmu
aku yang telah menghabiskan air susumu
aku yang selalu menyusahkanmu hingga muncul tangismu

Ibu...
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau kurus karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku

Ibu...
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada terbeli
jasamu tiada akhir
jasamu tiada tara
jasamu terlukis indah di dalam surga

Ibu...
hanya do'a yang bisa kupersembahkan untukmu
karena jasamu
tiada terbalas

Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu

Refleksi Diri__






Aku mempunyai teman dalam hidup ini…
Saat senang aku pergi sendiri
Saat sedih aku cari orang tua
Saat sukses aku ceritakan pada temanku
Saat gagal aku ceritakan pada orang tua
Saat bahagia aku peluk erat kawanku
Saat sedih aku peluk erat ibuku
Saat liburan akupergi dengan kawanku
Saat aku sibuk, anak kuantar ke rumah bapak
Saat sambut ulang tahun, selalu merayakan bersama kawan.
Saat sambut hari ibu, aku cuma ucapkan “Selamat Hari Ibu”
Selalu ibu yang ingat aku
Setiap saat aku telpon temanku
Kalau inget aku akan telpon orang tuaku
Selalu aku belikan hadiah untuk temanku
Entah kapan aku akan belikan hadiah untuk Ibu
Renungkan :
senantiasa Ibu mengingatkan
“Kalau kau sudah habis belajar dan berkerja kelak…
bolehkah kau kirim uang untuk orang tuamu?
Ibu tidak minta banyak, lima puluh ribu sebulan pun cukuplah”.
Berderai air mata jika kita mendengarnya . . .
Tapi kalau mereka sudah tiada . . .
Entah apa yang dapat ku perbuat lagi untuk mereka

Bapak . . Ibu . .
Anakmu Rindu . . . . Sangat Rindu . . . .padamu

Aku dan Petani. . .


Seorang petani yang tidak mengerjakan (menanami dan merawatnya) tanah yang dimilikinya, hal tersebut mungkin saja menggairahkan akan tapi sia-sia “panen” hasil. Sebaliknya, petani realistis yang memilih mengerjakan tanahnya dan tidak bermimpi atau melamun, tentulah akan menikmati hasil kerja kerasnya di saat panen. Sederhana dan nyata sekali memang. Dalam realita tentu jauh lebih sulit, sebab petani yang bekerja keras pun harus berjuang juga melawan wabah, musim kering dan banjir, tengkulak dan lain-lain.

Mungkin sebagian besar kita bukan petani dan tidak memiliki lahan pertanian. Akan tetapi hargailah mereka, karena mereka kita bisa menikmati pulennya nasi terhidang dimeja makan setiap hari. Tanah adalah simbol sumber nafkah dan kehidupan. Namun agar nyata menjadi sumber kehidupan tanah harus diolah dan dirawat. Untuk merawatnya kita membutuhkan tubuh dan jiwa yang sehat serta kuat. Yang terakhir ini pun harus kita jaga dan pelihara baik-baik.

Ingat,,,mengapa petani menanam padi sambil berjalan mundur?




Mereka tidak mau merusak pekerjaannya sendiri. Perumpamaan lama mengatakan jangan mengotori mata air sendiri juga orang lain. Kita pun diminta bijak agar sadar atau tak sadar, jangan merusak dan menghancurkan modal-modal kehidupan kita sendiri dengan kesia-siaan.

Semoga bermanfaat,


Rabu, 25 Juli 2012

Tentang Rasa

Sayangku, taukah kau tentang rasaku?Tentang betapa berdegubnya jantungku ketika berada di dekatmu?Tentang betapa dinginnya tanganku ketika berjabat denganmu?Tentang betapa rindunya aku ketika beberapa hari saja tidak bersamamu?Rasa ini seperti ikan-ikan di lautan yang berenang dengan lincahnyaRasa ini seperti burung-burung yang terbang dengan bebasnyaRasa ini seperti bunga-bunga yang tumbuh dengan indahnyaRasa ini mengalir apa adanya…Aku tak pernah meminta rasa ini adaTapi kini dia ada..Rasa yang entah kau tau atau tidak..Tapi, aku tau..Tentang rasamu yang jauh beda dengan rasakuTentang hatimu yang tak mungkin untukkuTentang kesempatan yang bukan milikku..

Namun akan terus kusimpan rasa ini untukmu...

Senja


Dear Senja,

Senja, Kamu begitu indah, atau mungkin terlalu indah, dan aku tidak pernah seindah semburat warnamu di kala sore menjelang. Apa aku pantas menemanimu kala sore ada?

Senja, keindahanmu sepertinya terlalu menyilaukanku. Entah sejak kapan aku selalu suka meresapimu dari kejauhan sambil bersembunyi di balik pohon tak berdaun. Dan kau tau itu.

Senja, aku tau, diantara warna indah yang kau semburkan ke langit sore. Ada satu warna yang selalu ingin kau miliki untuk menemanimu mengantarkan malam, atau mungkin menjemput pagi. Satu warna itu tak pernah kumiliki, dan aku tau itu.

Senja, sore ini aku sedang memandang ke arahmu. Berdiri termangu dan tertegun menikmati indahmu. Aku takut ketika kau tenggelam dan berganti malam, aku takut kehilanganmu ketika malam menjelang. Tapi, bukankah kita pada akhirnya akan kehilangan. Sekarang atau nanti pun tak ada bedanya, hanya masalah waktu saja.

Senja, sore ini, tak seperti biasanya aku tetap bertahan untukmu. Sore ini, aku melangkahkan kakiku ke belakang dengan amat teratur. Mundur selangkah, dua langkah, tiga langkah, sampai beribu langkah ke belakang, kemudian berbalik, berlari, dan hilang.

Senja, butuh waktu untuk mengambil langkah ke belakang. Butuh cara agar langkahku teratur dan tidak terlalu menyakitkan. Tapi, lambat laun, aku akan hilang. Dan kau tak perlu berpikir ke mana kakiku melangkah mundur. Karena tak akan mempengaurhimu, sedikitpun.

Senja, mungkin aku harusnya sadar lebih dalam tentang indahmu, dan tentang indahnya. Dan aku tak perlu membiarkan rasa kagumku akan pendar warnamu tumbuh lebih lama dan tertanam lebih dalam. Harusnya kucukupkan saja sejak awal.

Senja, aku tau, mimpimu adalah dia. Dan meski warna itu berada jauh dari sisimu, tapi tidak dengan hati dan pikirnamu.

Senja, terimakasih telah memberi jeda hatiku untuk bernapas. Aku sudah menyusun satu langkah ke belakang. Semoga langkah keduaku segera menyusul tanpa sakit sedikit pun.

Senja, kau tau? Kau hanya peristiwa sederhana, tapi istimewa untukku.

Terimakasih, Senja.

Tirulah Sifat Pensil. . .


Filusuf pensil


Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi.Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
“Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si cucu.
Si nenek kemudian menjawab,
“Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,


Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.


Pertama:
Pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.
**
Pensil dituntun oleh tangan,
Jadikan penuntun Kita adalah Allah Swt


Kedua:
Dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.


Ketiga:
Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
**
Penghapus selalu membenarkan kata kata kita dengan menghapus tulisan yg salah.
Kita juga harus mendengar nasehat orang lain apabila kita salah dan segera introspeksi diri.


Keempat:
Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.
Dalam hal ini yg ada dalam diri kita adalah hati dan nafsu, akal dan fikiran dan semua yg berasal dari dalam diri kita. Harus selalu kita kendalikan.


Kelima:
Sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…
Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”
**
Kita pun demikian , apa yang kita perbuat akan meninggalkan goresan baik atau buruk yang nantinya akan di hisab, maka berhati hatilah akan setiap goresan yang kita perbuat.


Semoga bermanfaat,

Selasa, 03 Januari 2012

Indonesia dalam tanda tanya Ibuku


Aku mengakuimu bukan karena
Juga mencintaimu tanpa sebab
Untukmu aku jalani darma
Berpeluh-peluh pada ketidakberdayaan
Entah kapan sosok ibuku menyapa
Seakan ia bertutur dalam keluhnya


Nak,,,tahukah kamu
Pemimpin itu dilahirkan oleh perjuangan
Perjuangan berarti pada zamannya
Tanpa dilotre, perjudian, pemilihan, dilombakan
Tanpa seragam kebesaran kepalsuan
Pemimpin itu tidak harus orang besar
Seorang pelacur, petani, buruh pun boleh
Nak,,,banyak orang-orang lupa
Hidup tanpa kemerdakaan jadinya apa
Dengan merdeka kamu berharga


Tapi nak,,,
Apakah aku, kamu, mereka sudah merdeka
Ironis memang puluhan bahkan ratusanTahun
Hidup dalam tanda tanya
Bagaiman kamu bisa merdeka
Kalau Negara yang kamu banggakan ini
Belum bisa memerdekakan dirinya
Jangan kau kira Negara mu ini sudah merdeka
Merdeka pada hakikatnya masih sulit diwujudkan
Nak,,,janganlah mengemis kau untuk Negara mu
Tanpa Negara ini kamu bisa merdeka
Bukankah Negaramu lupa akan identitasnya
Mengapa, siapa, apa itu Negara


Nak,,,maukah kamu tahu
Negara itu adalah satu kesatuan yang disetujui rakyat atas wilayahnya
Bukan persetujuan pejabat biadab serta golongan keparat
Mungkin harus dikaji lagi entah kapan
Mengenai apa itu Negara, bangsa, wilayah, suku, kepulauan
Sebab Indonesia bukan hanya Negara,
Ia juga bangsa, wilayah, kepulauan, suku
Beragam corak warna, rasa, budaya
Dalam satu bendera, darah, tulang, harapan
Satu Indonesia, Indonesia satu


Nak,,,katanya ini Negara hukum
Tentunya aku, kamu juga mereka tahu
Hukum itu mengatur masyarakat supaya aman dan damai
Melindungi, membela mereka yang harus dibela
Menindas, menghukum mereka yang pantas dihukum
Hukum itu berada diluar diri manusia
Hukum hanya dilahirkan untuk mereka
Manusia yang tidak punya nurani
Banyak hukum yang dilahirkan
Menunjukkan kualitas manusianya rendah
Tapi Negara mu bodoh tak mau tahu


Nak,,,menjadilah kamu manusia merdeka
Selalu merasa kaya walau tak berpunya
Sebab Negara ini tak punya nilai peduli
Rasa aman, damai, harkat, martabat, hak mu tlah dirampas oleh nya
Hidup dan hiduplah kamu semua
Hidup dalam kemerdekaan serta kebebasan
Karena kebebasan adalah syarat utama untuk menjadi manusia yang mandiri



Jogjakarta 2011